Waktu membaca 10 Menit

Slippage dalam Trading: Mengapa Harga Eksekusi Berbeda?

Slippage terjadi ketika harga eksekusi aktual berbeda dari harga yang diharapkan saat order dibuat. Kondisi ini dapat muncul akibat volatilitas, likuiditas yang terbatas, ukuran order, atau perubahan harga yang cepat. Memahami slippage membantu trader mengukur biaya eksekusi secara lebih realistis dan memilih jenis order yang sesuai.

Slippage terjadi ketika harga eksekusi aktual berbeda dari harga yang diharapkan saat order dibuat. Kondisi ini dapat muncul akibat volatilitas, likuiditas yang terbatas, ukuran order, atau perubahan harga yang cepat. Memahami slippage membantu trader mengukur biaya eksekusi secara lebih realistis dan memilih jenis order yang sesuai.

Poin Penting

  • Slippage adalah perbedaan antara harga yang diharapkan saat order dibuat dan harga aktual ketika order dieksekusi.
  • Slippage lebih mudah terjadi ketika pasar sangat volatil atau likuiditas pada harga tertentu terbatas.
  • Market order memprioritaskan kecepatan eksekusi, sehingga harga akhirnya dapat berbeda dari harga yang terlihat sebelumnya.
  • Limit order memberikan kontrol harga lebih besar, tetapi tidak menjamin order akan tereksekusi.
  • Bid-ask spread dan slippage adalah dua hal berbeda meskipun keduanya dapat memengaruhi biaya transaksi.

Pernah melihat harga suatu saham di layar, menekan tombol buy, tetapi transaksi akhirnya tereksekusi pada harga yang sedikit berbeda? Perbedaan tersebut dapat terjadi karena slippage. Slippage adalah perbedaan antara harga yang diharapkan ketika sebuah order dibuat dan harga aktual ketika transaksi benar-benar dieksekusi. Kondisi ini merupakan bagian dari mekanisme pasar karena harga terus berubah dan jumlah aset yang tersedia pada setiap level harga juga terbatas.

Slippage tidak selalu berarti terdapat kesalahan pada platform atau broker. Dalam banyak kasus, kondisi ini muncul karena harga bergerak di antara saat order dikirim dan saat order menemukan lawan transaksi. Risiko tersebut menjadi semakin relevan ketika pasar bergerak cepat atau liquidity sedang tipis.

Apa Itu Slippage?

Slippage adalah selisih antara expected execution price dan actual execution price. Selisih tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik maupun lebih buruk daripada harga yang terlihat ketika trader mengirim order.

Misalnya sebuah saham memiliki harga sekitar US$100 ketika investor menekan buy. Namun, karena harga bergerak cepat, order akhirnya tereksekusi pada US$100,20. Selisih US$0,20 per saham tersebut merupakan slippage.

Jika investor membeli 100 saham, perbedaannya menjadi:

US$0,20 × 100 = US$20

Semakin besar ukuran order, semakin besar pula dampak nominal dari perbedaan harga yang relatif kecil.

Apakah Slippage Selalu Merugikan?

Tidak selalu. Slippage dapat terjadi ke arah yang tidak menguntungkan maupun menguntungkan. Misalnya trader ingin membeli saham pada sekitar US$100. Jika transaksi akhirnya tereksekusi di US$100,20, hasil tersebut kurang menguntungkan karena harga beli menjadi lebih tinggi. Namun, jika order justru tereksekusi pada US$99,90, trader memperoleh harga yang lebih baik dari perkiraan awal.

Hal serupa dapat terjadi pada order jual. Harga eksekusi dapat berada di atas atau di bawah harga yang terlihat ketika order dikirim.
Karena itu, slippage sebaiknya dipahami sebagai execution variance, bukan otomatis sebagai biaya tetap.

Kenapa Slippage Bisa Terjadi?

Pasar finansial bekerja melalui interaksi antara pembeli dan penjual. Harga yang terlihat di layar hanya mencerminkan kondisi pasar pada suatu titik waktu. Ketika order sampai ke pasar, kondisi tersebut dapat sudah berubah.

Beberapa penyebab utamanya adalah:

  • Volatilitas tinggi.
  • Likuiditas rendah.
  • Market depth yang tipis.
  • Ukuran order besar.
  • Penggunaan market order.
  • Perubahan harga yang sangat cepat.
  • Waktu perdagangan dengan volume rendah.
  • News atau data ekonomi penting.

Faktor-faktor tersebut dapat bekerja secara bersamaan. Misalnya pasar dapat menjadi sangat volatil sekaligus kehilangan liquidity ketika berita besar diumumkan.

Infografik penyebab utama slippage adalah volatilitas tinggi, likuiditas rendah, market order, spread melebar, serta timing dan routing order.
 

Bagaimana Likuiditas Memengaruhi Slippage?

Likuiditas menunjukkan seberapa mudah suatu aset dapat dibeli atau dijual tanpa menggerakkan harga secara signifikan. Pasar dengan banyak pembeli dan penjual biasanya memiliki order book yang lebih dalam sehingga transaksi dapat dilakukan pada harga yang relatif berdekatan.

Sebaliknya, pasar dengan liquidity rendah memiliki jumlah order yang lebih sedikit pada setiap level harga. Jika ukuran transaksi lebih besar daripada jumlah aset yang tersedia pada harga terbaik, order harus mengambil liquidity dari level harga berikutnya. Inilah salah satu mekanisme utama munculnya slippage.

Contoh Slippage karena Market Depth

Misalnya order book menunjukkan:

  • 500 saham tersedia pada US$100.
  • 500 saham berikutnya tersedia pada US$100,20.

Trader kemudian memasukkan market order untuk membeli 1.000 saham.

Sebanyak 500 saham pertama dapat tereksekusi pada US$100. Sisanya harus mengambil penawaran berikutnya pada US$100,20.

Rata-rata harga eksekusi menjadi:

(500 × US$100 + 500 × US$100,20) ÷ 1.000 = US$100,10

Walaupun harga terbaik awal adalah US$100, rata-rata transaksi akhirnya menjadi US$100,10 karena liquidity pada level pertama tidak cukup.

Kenapa Volatilitas Meningkatkan Slippage?

Volatilitas menunjukkan seberapa besar dan cepat harga bergerak. Ketika volatilitas tinggi, harga dapat berubah beberapa kali dalam waktu sangat singkat.

Hal ini sering terjadi ketika:

  • Laporan keuangan diumumkan.
  • Data inflasi dirilis.
  • Keputusan suku bunga diumumkan.
  • Perusahaan mengeluarkan berita penting.
  • Terjadi peristiwa geopolitik.
  • Pasar baru saja dibuka setelah muncul berita besar.

Dalam kondisi tersebut, harga yang terlihat ketika trader menekan tombol buy atau sell dapat sudah tidak tersedia beberapa saat kemudian.
Semakin cepat perubahan harga, semakin tinggi kemungkinan actual fill berbeda dari harga awal.

Market Order dan Risiko Slippage

Market order adalah order yang memprioritaskan eksekusi secepat mungkin pada harga terbaik yang tersedia. Karena fokusnya pada execution certainty, trader tidak menentukan batas harga maksimum atau minimum.

Misalnya trader memasukkan market buy ketika ask price terlihat US$50. Jika liquidity pada US$50 habis sebelum order terisi seluruhnya, sisa order dapat berpindah ke US$50,05, US$50,10, atau level berikutnya. Karena itu, market order lebih rentan terhadap slippage, terutama ketika:

  • Pasar sangat volatil.
  • Order relatif besar.
  • Trading volume rendah.
  • Bid-ask spread lebar.

Market order tetap memiliki fungsi karena memberikan peluang eksekusi yang lebih tinggi. Namun, trader perlu memahami trade-off antara kepastian eksekusi dan kepastian harga.

Bagaimana Limit Order Mengurangi Slippage?

Limit order memungkinkan trader menentukan harga maksimum untuk membeli atau harga minimum untuk menjual. Dengan demikian, order tidak akan dieksekusi pada harga yang lebih buruk daripada batas tersebut.

Misalnya investor ingin membeli saham dengan harga maksimal US$100. Ia memasukkan limit buy di US$100. Jika harga pasar bergerak ke US$100,50, order tidak akan mengejar harga tersebut. Ini melindungi investor dari eksekusi yang jauh lebih tinggi daripada batasnya.

Namun, ada konsekuensi lain: limit order tidak menjamin transaksi akan terjadi. Jika harga tidak kembali ke US$100 atau lebih rendah, order dapat tetap terbuka tanpa eksekusi.

Dengan demikian:

  • Market Order. Prioritas pada eksekusi.
  • Limit Order. Prioritas pada harga.

Tidak ada jenis order yang selalu lebih baik dalam setiap kondisi.

Slippage vs Bid-Ask Spread

Slippage sering disamakan dengan bid-ask spread, padahal keduanya berbeda. Bid adalah harga tertinggi yang saat ini bersedia dibayar pembeli. Ask adalah harga terendah yang bersedia diterima penjual. Selisih antara keduanya disebut bid-ask spread.

Contohnya:

  • Bid: US$99,95
  • Ask: US$100,00

Spread-nya adalah US$0,05.

Sementara itu, slippage terjadi ketika harga transaksi aktual berbeda dari harga yang diperkirakan saat order dibuat.

Dengan kata lain:

  • Spread = perbedaan antara bid dan ask.
  • Slippage = perbedaan antara expected price dan executed price.

Keduanya sama-sama dapat memengaruhi hasil transaksi, tetapi berasal dari mekanisme berbeda.

Kenapa Slippage Bisa Lebih Besar Saat Market Open?

Pada awal sesi perdagangan, pasar sering sedang menyesuaikan berbagai informasi yang muncul sejak sesi sebelumnya ditutup. Akibatnya, volume transaksi dapat tinggi dan harga bergerak lebih cepat. Di sisi lain, pada beberapa kondisi market depth justru belum stabil. Bid dan ask dapat berubah dengan cepat sehingga peluang slippage menjadi lebih besar.

Fenomena serupa juga dapat terjadi menjelang penutupan pasar atau selama event ekonomi penting. Karena itu, trader sebaiknya tidak hanya melihat harga tetapi juga memperhatikan kondisi liquidity dan volatility.

Apakah Ukuran Order Memengaruhi Slippage?

Ya. Semakin besar order dibandingkan dengan liquidity yang tersedia, semakin besar kemungkinan order harus dieksekusi pada beberapa level harga.
Misalnya hanya terdapat 1.000 saham yang tersedia dekat harga pasar. Market order sebesar 100 saham kemungkinan dapat tereksekusi tanpa banyak menggerakkan harga.

Namun, order sebesar 20.000 saham mungkin harus mengambil liquidity dari banyak level pada order book. Rata-rata harga eksekusi akhirnya dapat berbeda cukup jauh dari harga pertama. Untuk alasan tersebut, investor institusi sering menggunakan execution strategy tertentu untuk memecah order besar menjadi beberapa transaksi kecil. Tujuannya adalah mengurangi market impact.

Apa Hubungan Slippage dengan Stop Order?

Stop order digunakan untuk memicu transaksi ketika harga mencapai level tertentu. Namun, stop price tidak selalu menjadi execution price.
Ketika level stop tercapai, beberapa jenis stop order dapat berubah menjadi market order. Jika pasar bergerak sangat cepat, transaksi kemudian dapat terjadi pada harga berikutnya yang tersedia.

Misalnya stop ditetapkan pada US$90. Jika harga mengalami gap dari US$91 langsung ke US$88, transaksi mungkin tidak dapat dieksekusi tepat di US$90 karena tidak ada liquidity pada harga tersebut. Kondisi seperti ini penting dipahami dalam risk management. Stop order dapat membantu mengelola risiko, tetapi tidak selalu menjamin harga keluar yang persis sama dengan level stop.

Bagaimana Mengurangi Risiko Slippage?

Slippage tidak selalu dapat dihilangkan karena harga pasar terus berubah. Namun, beberapa langkah dapat membantu mengurangi eksposurnya.

Gunakan Limit Order Ketika Harga Menjadi Prioritas

Limit order membantu memastikan transaksi tidak dilakukan di luar harga maksimum atau minimum yang telah ditentukan. Konsekuensinya adalah order mungkin tidak tereksekusi.

Perhatikan Likuiditas

Aset dengan volume transaksi tinggi dan order book lebih dalam cenderung memiliki execution environment yang lebih stabil dibandingkan instrumen yang jarang diperdagangkan.

Perhatikan Waktu Transaksi

Risiko slippage dapat meningkat ketika liquidity rendah atau volatilitas sangat tinggi. Kondisi ini dapat muncul saat pembukaan pasar, pengumuman ekonomi, atau berita perusahaan penting.

Sesuaikan Ukuran Order

Order besar relatif terhadap liquidity pasar dapat memberikan market impact lebih besar. Membagi transaksi menjadi beberapa bagian dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi dampaknya, meskipun hasilnya tetap bergantung pada kondisi pasar.

Apakah Slippage Relevan untuk Investor Saham dan ETF?

Ya. Slippage tidak hanya relevan bagi trader jangka pendek. Investor saham dan ETF juga dapat mengalaminya ketika membeli atau menjual melalui pasar. Dampaknya biasanya lebih terasa ketika:

  • ETF atau saham memiliki liquidity rendah.
  • Transaksi dilakukan dalam jumlah besar.
  • Pasar sedang sangat volatil.
  • Spread sedang melebar.
  • Investor menggunakan market order.

Untuk investor jangka panjang, slippage kecil mungkin tidak terlalu dominan dibandingkan perubahan nilai investasi selama bertahun-tahun. Namun, tetap penting memahami execution price agar investor mengetahui harga aktual yang dibayarkan.

Bagaimana Cara Mengukur Slippage?

Cara paling sederhana adalah:

Slippage = Harga Eksekusi − Harga Referensi

Misalnya expected buy price adalah US$100 dan actual execution price US$100,15.

Slippage nominal:

US$100,15 − US$100 = US$0,15

Dalam persentase:

US$0,15 ÷ US$100 × 100% = 0,15%

Namun, untuk evaluasi yang lebih baik, trader sebaiknya tidak hanya melihat satu transaksi.

Analisis dapat mencakup:

  • Rata-rata slippage.
  • Median slippage.
  • Frekuensi slippage besar.
  • Perbedaan berdasarkan jam perdagangan.
  • Perbedaan berdasarkan volatility.
  • Perbedaan berdasarkan ukuran order.
  • Distribusi data sering memberikan informasi lebih baik daripada sekadar satu nilai rata-rata.

Kenapa Slippage Penting bagi Strategi Trading?

Strategi dapat terlihat menguntungkan berdasarkan harga teoritis, tetapi hasil aktual dapat berbeda setelah biaya transaksi dan execution quality diperhitungkan. Slippage merupakan salah satu komponen yang dapat memperbesar perbedaan tersebut.

Hal ini sangat relevan untuk strategi yang menargetkan profit relatif kecil pada setiap transaksi. Jika target profit hanya 0,5%, slippage 0,1% dapat mengurangi sebagian besar expected return. Sebaliknya, investor jangka panjang mungkin memiliki sensitivitas lebih rendah terhadap perbedaan harga kecil. Dampaknya selalu perlu dibandingkan dengan horizon waktu dan karakter strategi.

Kesalahan Umum dalam Memahami Slippage

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap setiap perbedaan harga merupakan slippage. Padahal, spread juga dapat menjelaskan sebagian perbedaan antara harga terakhir yang terlihat dan harga transaksi. Kesalahan lainnya adalah menganggap market order akan selalu terisi pada harga terakhir. Harga terakhir hanya menunjukkan transaksi sebelumnya, bukan jaminan harga berikutnya.

Trader juga sebaiknya tidak menganggap limit order sebagai solusi tanpa kekurangan. Limit order memberikan kontrol harga tetapi membawa risiko bahwa transaksi tidak terjadi sama sekali. Karena itu, memahami slippage berarti memahami trade-off antara harga, kecepatan, liquidity, dan kepastian eksekusi.

Kesimpulan

Slippage adalah perbedaan antara harga yang diharapkan ketika order dibuat dan harga aktual saat transaksi dieksekusi. Kondisi ini dapat terjadi karena perubahan harga yang cepat, liquidity terbatas, ukuran order besar, maupun karakter jenis order yang digunakan.

Market order umumnya memiliki risiko slippage lebih besar karena memprioritaskan eksekusi. Limit order memberikan kontrol harga lebih baik, tetapi transaksi tidak selalu terisi. Investor juga perlu membedakan slippage dengan bid-ask spread karena keduanya merupakan konsep berbeda.

Slippage tidak dapat sepenuhnya dihilangkan dari pasar yang dinamis. Namun, dengan memahami liquidity, volatility, order type, ukuran transaksi, dan waktu eksekusi, trader dapat membuat ekspektasi transaksi yang lebih realistis dan mengelola risiko eksekusi dengan lebih baik.

Dapatkan Reward hingga $25

Ada reward khusus pengguna baru saat buka rekening, deposit & transaksi di XTB!

Ambil rewardnya!

FAQ

Slippage adalah perbedaan antara harga yang diperkirakan ketika order dibuat dan harga aktual saat transaksi dieksekusi. Perbedaan dapat terjadi ketika harga berubah sebelum order selesai diproses atau liquidity pada harga awal tidak mencukupi.

Penyebab utama slippage antara lain volatilitas tinggi, liquidity rendah, market depth yang tipis, ukuran order besar, dan perubahan harga yang cepat. Market order juga lebih rentan karena memprioritaskan eksekusi dibandingkan harga.

Spread adalah selisih antara harga bid dan ask yang tersedia di pasar. Slippage adalah perbedaan antara expected execution price dan actual execution price. Keduanya dapat memengaruhi hasil transaksi tetapi berasal dari mekanisme yang berbeda.

Limit order dirancang agar transaksi tidak dieksekusi pada harga yang lebih buruk daripada batas yang ditentukan. Namun, konsekuensinya adalah order dapat tidak tereksekusi apabila tidak tersedia liquidity pada harga tersebut.

Berita penting dapat memicu perubahan harga yang cepat dan membuat liquidity berpindah antarlevel harga. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan harga yang tersedia ketika order dieksekusi berbeda dari harga yang terlihat ketika order dikirim.

 

Trader dapat mempertimbangkan limit order, memperhatikan market liquidity, menghindari ukuran order yang terlalu besar dibandingkan market depth, serta memahami kondisi volatilitas sebelum melakukan transaksi. Slippage tetap tidak dapat dijamin hilang sepenuhnya.

9 menit

10 Rekomendasi Buku untuk Belajar Investasi Saham Global

10 menit

Fear and Greed dalam Trading: Cara Mengendalikan Emosi

11 menit

Apa Itu Akun Demo Trading? Panduan untuk Investor Pemula

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.